Minggu, 27 Februari 2011

Selalu Ada Harapan Di Dalam Penantian

Hari Valentine seringkali identik bagi para jomblo dengan keluhan, “Sedihnya masih jomblo di hari Valentine”. Sementara orang-orang sepertinya begitu gampang masuk maupun keluar dari sebuah hubungan. Hal ini terlihat jelas dari profil facebook dimana status hubungan para pengguna facebook yang terus berganti.

Lalu bagaimana seharusnya bagi para lajang Kristen yang sudah memasuki usia menikah harus menangani hubungan dalam kehidupan nyata? Banyak godaan yang hadir saat ini. Teman-teman saya terus mengajukan pertanyaan sepanjang waktu dan saya terus berusaha menghindar. Jadi topik tetap melajang di usia menikah sepertinya menjadi cukup populer di kalangan saya.

Beberapa tahun yang lalu, seorang pria benar-benar membuat saya tergoda: saya diminta untuk menemaninya ke sebuah pesta dansa yang megah (ya, pesta dansa seperti di kisah Cinderella!).

Tapi saya menolaknya. Kenapa? Karena dia tidak seiman. Jadi gaun pesta saya tetap tergantung di dalam lemari malam itu.

Beberapa orang mungkin akan berkata, “Hei Stacie, kamu terlalu ekstrim. Itu kan hanya kencan”. Yah, sebuah kencan cukup untuk meluncurkan roket emosi dan kemungkinan yang tak dapat diterima.

Saat ini saya sedang tidak mencoba untuk melawan cara yang berbeda agar bertemu dengan orang lain. Saya hanya tidak akan terburu-buru. Hal itu tidak akan berhasil. Meskipun saya memiliki banyak kesempatan, saya hanya memilih beberapa kencan dan itu tidak banyak. Mengapa? Karena saya ingin menjaga hati saya, hati pria yang mendekati saya, dan memanfaatkan kriteria yang berpusat pada Kristus.

Ya, saya adalah seorang wanita usia 24 tahun, belum menikah, super sibuk dan memiliki hasrat untuk Injil. Saya tetap menyembunyikan status hubungan saya dari publik di facebook untuk alasan yang baik: Saya bukan berkencan untuk mencari perhatian. Saya berkencan dengan niat.

Kawanan mak comblang mendatangi saya dan menawarkan pilihan terbaik mereka – dan terkadang itu putra mereka sendiri! Namun dengan halus dan lembut saya menahan diri dari kebanyakan mereka. Mengapa? Karena saya percaya bahwa Pencipta saya adalah mak combalng saya.

Sebagai orang percaya, kita seringkali jatuh dalam tiga kategori ini:

1. Cendekiawan Tanpa Komitmen: Beberapa orang percaya memasuki siklus penalaran yang tidak sehat dengan melakukan sindrom tanpa komitmen. Mereka mengenakan topeng kekuatiran dan menyebutnya sebagai “analisa”. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi tidak sadar akan hal-hal yang sebenarnya mudah dimengerti. Banyak hati yang terluka sebagai akibat dari kekuatiran intelektual.

2. Penyelam Emosional: Beberapa orang mencampur-adukkan perasaan dengan iman. Mereka “merasa” telah bertemu dengan “orang yang tepat”. Oleh karena itu mereka pun menenggelamkan diri. Mereka menyelam dengan sangat dalam dan akhirnya berjuang untuk bertahan hidup di kemudian hari.

3. Seimbang dan Berani: Orang percaya ini menyadari bahwa pernikahan adalah hal yang serius, tapi juga menarik keberanian mereka dari Kristus. Mereka berjalan dengan hati-hati dan penuh dengan tujuan. Mereka tidak berkencan selama bertahun-tahun (atau dalam hitungan hari) untuk membuat keputusan. Mereka memutuskan untuk berkomitmen atau berpisah dalam jangka waktu yang wajar. Kemudian, ketika mereka bergantung pada iman dan formula yang berpusat pada Kristus untuk menemukan “teman hidup”, mereka berkomitmen tanpa membiarkan ketakutan memimpin hati mereka.

Apakah Anda merasa sedang berada di dalam “ruang tunggu cinta”-nya Tuhan? Apakah Anda masih melajang (di usia yang sudah pantas untuk menikah serta mapan) dan harus menghadapi para ibu-ibu yang menjadi mak comblang? Apakah Anda ingin mengikuti Yesus tanpa kompromi?

Berikut adalah beberapa tips untuk tetap berpusat pada konsep Ilahi dalam menemukan “teman hidup”.

1. Jadikan cinta Ilahi sebagai prioritas pertama Anda. Ikuti Yesus. Jangan jadikan pernikahan sebagai pencarian utama Anda. Berusahalah untuk mengasihi Allah dan orang lain. Lalu segala sesuatunya akan berada di tempatnya.

Peganglah ayat-ayat ini:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu (hidup Anda) dan dengan segenap akal budimu (segala pemikiran dan pemahaman moral Anda) dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:30-31)

2. Jangan biarkan perasaan cinta menutupi logika . Lihatlah jika karakter seseorang sesuai dengan “rumus logis” untuk kompatibilitas (kecocokan). Jangan puas untuk mendapatkan yang kurang daripada pemberian Tuhan yang terbaik.

Contoh:

Pengikut Yesus (+), saling pengertian atau memiliki minat yang sama (+), menarik (+), memiliki selera humor yang sama (+), keluarga yang harmonis dan keyakinan dalam membesarkan anak (-), doa (+), konsistensi karakter dari waktu ke waktu (minimal setahun) = potensial “teman hidup”.

3. Mematuhi Firman Tuhan sebagai yang pertama dan terpenting – dan bertindak berdasarkan Firman. Hindari menggunakan kencan maupun buku panduan sebagai pengganti keunggulan Kitab Suci.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22)

4. Jangan jadikan cara Anda sebagai alasan dalam situasi yang buruk. Jangan juga jadikan cara Anda sebagai alasan dalam situasi yang baik. Sebagai manusia, kita semua memiliki cara untuk membuat pilihan salah yang tampak benar pada waktu itu. Kita juga menjadikan kebenaran terlihat salah saat kita takut. Namun, sebagai orang percaya, kita memiliki Roh Kudus untuk membimbing kita. Tuhan berbicara kepada kita dan menggunakan Kitab Suci suntuk membimbing kita.

“Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.” (2 Korintus 10:4)

5. Percayakan Pencipta Anda sebagai mak comblang Anda. Tangan-Nya bergerak dengan kecepatan yang sempurna. Hai para gadis, bersantailah dan nikmati hidup tanpa mencoba membuat pria tertarik kepada Anda setiap saat. Anda tidak dapat memaksa tangan Tuhan untuk membawa Anda kepada seseorang. Hai para pria, arahkan pandangan Anda kepada Yesus dan IA akan membuka mata Anda untuk melihat wanita mana yang pantas Anda ajak kencan. Hai para gadis, nikmatilah untuk dikejar. Anda merupakan harta yang layak untuk dikejar seperti itu. Hai para pria, nikmati peran Anda berburu wanita saleh dan memperlakukan mereka sebagai Putri Allah. Kirimkan ia bunga, perlakukan ia dengan baik dan dengan kasih Tuhan, dan tunjukkan padanya bahwa ksatria belumlah mati.

“Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN.” (Amsal 18:22)

6. Percaya dan berlakulah sebagaimana layaknya orang percaya – bukan sebagaimana kencan di dunia sekuler. Jangan biarkan “kebohongan nafsu” dunia mendustakan kebenaran. Dunia mengajarkan kepada kita untuk berpakaian seksi, terbuka, dan berhubungan dengan berbagai macam pria maupun wanita. Hal ini sangat salah. Tuhan ingin agar kita mengejar DIA sebagai yang utama dan menjadi kudus sebagaimana IA adalah kudus.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16)

7. Berkencanlah hanya dengan mereka yang berpotensi untuk menikah. Jangan main-main dengan hal ini hanya untuk hiburan intelektual dan dipenuhi nafsu. Lagipula, setiap pernikahan dimulai dengan kencan atau pertemuan. Setiap api dimulai dengan percikan. Pastikan api itu dimulai oleh Allah.

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:2)

Sangat mudah bagi para lajang untuk tetap lajang dan tidak memikirkan pernikahan. Tapi Tuhan tidak melihat status kita yang “lajang” atau “menikah”. Tuhan mengasihi kita dan memakai hidup kita saat kita mengosongkan diri kita dan mengisinya dengan pribadi-Nya.

Ya! Pernikahan yang berpusat pada Kristus adalah suatu hal yang luar biasa. Namun jika kita tidak pernah bertemu “Si Dia” yang terwakili dalam “formula berdasarkan iman” kita, maka kita akan tetap sama sebagai pribadi yang dicintai Allah dan dipakai oleh-Nya. Dalam keadaan terbalik, Tuhan tidak membawa orang Kristen yang baik, cocok dan menarik ke dalam hidup kita untuk menyiksa kita dengan pertanyaan-pertanyaan apakah kita akan tetap melajang atau akan menikah. Tetaplah berdoa dengan pikiran terbuka untuk menerima apa yang Tuhan kirimkan. Runtuhkan dinding kekuatiran dan melangkahlah dengan iman – bukan dengan ketakutan.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” (Yakobus 1:7)

Saat ini, secara alami saya adalah seorang yang penuh kasih sayang dan bersemangat akan kemungkinan menikah suatu hari nanti. Akhir-akhir ini, saya cenderung merasa bahwa Tuhan mungkin ingin agar saya menikah karena saya memiliki keinginan tiada henti untuk membantu dan mencintai seseorang dan melayani Yesus bersama-sama suatu hari nanti.

Apapun yang terjadi, saya percaya pada Yesus. Saya akan menjalani hidup saya bagi Yesus, menikmati petualangan dengan-Nya dan bersandar pada-Nya untuk masa depan. Sesederhana itu. Sangat luar biasa!

Saat Tuhan mengirimkan milik-Nya yang terbaik kepada Anda, berlarilah dengan itu. Dan Anda tidak akan menyesalinya! Hanya ingatlah: Hubungan dan kehidupan bukanlah lari cepat, tapi lari marathon. Mari berlari bagi Yesus!

Source : Stacie Ruth Stoelting - cbn.com

Selasa, 08 Februari 2011

Rumah Dengan Jendela Emas

Ada seorang gadis kecil hidup di sebuah rumah yang sederhana. Seringkali ia merasa menyesal dilahirkan di keluarga miskin seperti itu, apa lagi ketika ia melihat ke seberang lembah dimana terdapat sebuah rumah besar di bukit dengan jendela yang terbuat dari emas berkilauan tertimpa sinar matahari. Gadis kecil itu membayangkan bagaimana indahnya jika ia dibesarkan di rumah dengan jendela-jendela emas itu, dan bukannya di rumah kecil seperti ia tinggali saat ini.

Sekalipun ia mencintai ke dua orangtuanya, dia tidak pernah bisa menghapus keinginan untuk bisa tinggal di rumah besar dengan jendela emas itu. Mimpi itu terus ia simpan hingga ia bertumbuh besar.

Suatu hari ketika ia telah cukup besar dan memiliki ketrampilan yang cukup untuk keluar dari pekarangan rumahnya, dia meminta ijin pada ibunya untuk bisa bersepeda di luar pagar rumahnya dan turun menuju lembah. Setelah memohon-mohon pada sang ibu, akhirnya gadis itu diijinkan asalkan tidak pergi terlalu jauh dari rumah.

Hari itu adalah hari yang cerah dan indah, serta gadis itu tahu pasti kemana tujuannya, dia mengarahkan pandangannya kerumah besar dengan jendela-jendela emas itu. Namun setelah bersepeda cukup jauh dan menaiki bukit di mana rumah itu berada, ia sangat kecewa. Setelah dilihatnya dari dekat, ternyata rumah tersebut tampak tidak terawat dan jendelanya pun tidak terbuat dari emas, bahkan terlihat kotor. Rumah itu tidak tampak seperti yang ia lihat selama ini dari jauh, hanya sebuah rumah yang tidak berpenghuni dan tidak terawatt.

Dengan sedih ia akhirnya memutuskan pulang. Ia memutar sepedanya dan beranjak untuk kembali ke rumahnya. Saat ia mengangkat wajahnya, gadis itu tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Dari sisi bukit dimana ia berada saat ini, ia bisa melihat rumah mungilnya, dan jendela itu.. jendela dimana ia biasa merenung terlihat berkilau bagai emas ditimpa sinar matahari sore.

Gadis kecil itu akhirnya sadar bahwa selama ini ia hidup di sebuah rumah dengan jendela emas seperti yang diimpikannya selama ini. Rumah itu penuh dengan kehangatan dan cinta dari orangtuanya. Semua yang ia impikan sebenarnya ada di dekatnya, namun karena ia terfokus pada rumah lain, ia tidak pernah melihatnya.

Apa yang dialami oleh gadis kecil dalam cerita diatas seringkali kita alami. Kita sering memandang rumput orang lain lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita sendiri. Hasilnya, kita tidak bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Jadi, mulai saat ini ayo kita ubah cara kita memandang, lihatlah bahwa setiap anugrah Tuhan dalam hidup kita adalah sesuatu yang berharga.

Sumber : Academictips.org

Jumat, 04 Februari 2011

When God Whispers Your Name

Galatia 2:22-23

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Tenang. Ini masih pagi sekali. Kopi saya masih panas. Langit masih gelap. Dunia masih tertidur. Hari yang baru datang.

Dalam beberapa saat lagi siang akan menjelang. Ini akan diikuti oleh bunyi gemuruh menuruni jalanan ketika matahari terbit. Keheningan fajar akan digantikan oleh suara bising siang hari. Ketenangan kesendirian akan digantikan oleh kecepatan langkah-langkah manusia. Rasa aman di pagi hari akan diserbu oleh keputusan yang harus dibuat dan tenggat waktu yang harus dipenuhi.

Untuk dua belas jam kedepan saya harus menghadapi tuntutan dari hari tersebut. Sekarang saya harus membuat keputusan. Karena oleh karya Kalvari, saya bebas untuk memilih. Jadi saya memilih.

Saya memilih kasih..

Tidak ada tempat untuk membenarkan kebencian; tidak juga ketidak adilan ataupun kepahitan. Saya memilih untuk mengasihi. Hari ini saya akan mengasihi Tuhan dan apa yang Tuhan kasihi.

Saya memilih sukacita…

Saya akan mengundang Tuhan saya untuk menjadi Tuhan atas setiap keadaan. Saya akan menolak godaan untuk menjadi sinis.. alat dari pemikiran yang malas. Saya menolak melihat pribadi orang lain sebagai sesuatu yang lain, selain manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Saya akan menolak melihat masalah sebagai sesuatu yang lain kecuali sebagai kesempatan untuk melihat Tuhan.

Saya memilih kedamaian.

Saya hidup dalam pengampunan. Saya akan mengampuni sehingga saya bisa terus hidup.

Saya memilih sabar..

Saya akan mengabaikan ketidaknyamanan dunia. Alih-alih mengutuh orang yang mengambil tempat saya, saya akan mempersilahkan dia untuk mengambilnya. Dari pada mengeluh karena harus menunggu terlalu lama, saya akan bersyukur pada Tuhan karena diberi waktu untuk berdoa. Daripada mengepalkan tangan karena diberi tugas yang baru, saya akan menerimanya dengan sukacita dan keberanian.

Saya memilih kemurahan hati..

Saya akan murah hati kepada yang miskin, kepada mereka yang sendirian. Murah hati kepada orang kaya, juga mereka yang ketakutan. Dan juga murah hati kepada mereka yang tidak murah hati, karena demikianlah Tuhan telah memperlakukan saya.

Saya memilih kebaikan…

Saya akan pergi tanapa uang sebelum saya menjadi tidak jujur. Saya akan mengabaikannya sebelum menjadi sombong. Saya akan mengaku daripada menuduh. Saya memilih kebaikan.

Saya memilih kesetiaan…

Hari ini saya akan menepati janji saya. Debitur saya tidak akan menyesal karena telah mempercayai saya. Rekan saya tidak akan mempertanyakan perkataan saya. Istri saya tidak akan meragukan cinta saya. Dan anak-anak saya tidak akan pernah takut ayah mereka tidak pulang.

Saya memilih kelemahlembutan…

Tidak ada yang dimenangkan dengan pemaksaan. Saya memilih menjadi lemah lembut. Jika saya meninggikan suara saya mungkin itu hanya untuk memuji. Jika saya mengepalkan tangan saya, itu hanya karena saya mau berdoa. Jika saya memiliki permintaan, itu hanyalah pada diri saya sendiri.

Saya memilih pengendalian diri…

Saya adalah manusia rohani. Setelah tubuh ini mati, maka roh saya akan melambung. Saya menolak mengijinkan apa yang akan membusuk mengendalikan apa yang kekal. Saya memilih untuk mengendalikan diri. Saya memilih hanya mabuk oleh sukacita. Saya hanya akan tidak sabar karena iman saya. Saya hanya akan dipengaruhi oleh Tuhan. Saya hanya akan memikirkan apa yang diajarkan oleh Kristus. Saya memilih pengendalian diri.

Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan pengendalian diri. Dengan semua itu saya akan menjalani hari ini. Jika saya berhasil, saya akan bersyukur. Jika saya gagal, saya akan mencari kasih karunia dari-Nya. Dan kemudian, ketika hari ini telah selesai, saya akan menaruh kepala saya di bantal dan beristirahat.

Diterjemahkan dari : From When God Whispers Your Name
Copyright (Thomas Nelson, 1994) Max Lucado
Sumber : Maxlucado.com

Kamis, 03 Februari 2011

Kisah Botol Acar

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu." Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku."

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin."

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada Susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. "Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menangis lirih. Kemudian Susan mengambilnya dari pelukan Ayah. "Mungkin popoknya basah," kata Susan, lalu di bawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

Susan kembali ke ruang keluarga dengan mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. "Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.

Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

Sumber : Facebook Kumpulan Kisah Inspirasi Hidup

Selasa, 01 Februari 2011

Melepaskan Hubungan Yang Salah

Dengan semakin mendekatnya perayaan hari Valentine, banyak dari antara kita yang akan mengkaji ulang hubungan cinta yang sedang kita jalani. Mary Pender Greene, pakar hubungan dan psikoterapis dari New York City mengatakan, “Hubungan percintaan adalah sesuatu yang indah. Hubungan seperti itu memperkaya hidup kita dan membuat sebagian besar kita meningkatkan perasaan akan keterikatan, harga diri dan kesejahteraan. Penelitian terbaru menemukan bahwa meningkatnya pengalaman cinta dan seks akan meningkatkan pandangan kita terhadap kehidupan dan memperbaiki kesehatan kita.”

Tahapan awal dari suatu hubungan cinta biasa kita kenal dengan periode bulan madu – saat dimana hati terasa berbunga-bunga dan penuh dengan kebahagiaan yang seringkali tidak berlangsung lama.

Pender Greene melanjutkan, “Pasangan dalam suatu hubungan percintaan cenderung menunggu sampai mereka merasa nyaman satu sama lain – biasanya tiga bulan atau lebih – sebelum mereka mulai menunjukkan pribadi mereka yang sebenarnya yang sebelumnya masih tertutup rapi saat pertemuan-pertemuan awal. Tersingkapnya beberapa masalah seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang – pengangguran tingkat kronis atau hutang yang bertumpuk dapat membuat Anda mempertanyakan pilihan Anda akan pasangan Anda. Jika Anda mulai disingkapkan beberapa hal perihal pasangan yang mengganggu Anda, mungkin sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali hubungan Anda.”

Cobalah untuk mengesampingkan beberapa penyingkapan kebenaran akan masalah pasangan Anda, karena perilaku seseorang dapat berubah jika dihadapkan pada konteks realita yang baru, seperti tekanan pekerjaan ataupun perselisihan keluarga. Jika perubahan perilaku itu mengubah perasaan Anda terhadap orang tersebut, maka bisa jadi inilah waktu bagi Anda untuk melanjutkan hidup.

Pender Greene mengidentifikasi beberapa tanda-tanda peringatan yang menunjukkan hubungan Anda sepertinya tidak dapat dipertahankan lebih lama:

1. Rasa keterikatan di antara Anda berdua terasa lebih mirip persahabatan.
2. Saat pasangan Anda berkata, “Aku mencintaimu”, terasa berat bagi Anda untuk mengatakan hal yang sama.
3. Anda hanya memiliki sedikit topik untuk dibicarakan satu sama lain.
4. Salah satu pihak berkhianat.
5. Ada perasaan ‘ga nyambung’ ketika Anda mencoba untuk berkomunikasi dengannya.
6. Kepura-puraan di antara Anda lebih menarik daripada hubungan itu sendiri.
7. Pembicaraan Anda berdua mengenai masa depan bersama hanya terlihat bagaikan fantasi atau tidak nyata.
8. Anda menemukan bahwa Anda berdua lebih sering bertengkar daripada bersenang-senang.
9. Melakukan hubungan seks di luar nikah karena kurangnya pengendalian diri, dan rasa bersalah yang mengikuti hal itu.
10. Pasangan Anda tidak mendukung pekerjaan maupun hobi Anda di luar hubungan percintaan Anda berdua.
11. Anda menemukan bahwa diri Anda melihat orang lain lebih menarik daripada pasangan Anda.

”Anda dapat berlama-lama menjalani suatu hubungan yang tidak bahagia karena telah menjadi bagian dari rutinitas Anda dan Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan jika Anda melepaskan diri darinya,” ujar Pender Greene.

“Anda dapat melanjutkan hubungan tersebut dalam bentuk lain jika hubungan tersebut memenuhi beberapa tujuan fungsional, seperti persahabatan yang sederhana atau hubugan sosial yang lebih luas. Selain itu, semakin lama Anda mempertahankan sebuah hubungan yang tidak memuaskan, semakin sedikit kesempatan Anda untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik. Melepaskan pasangan Anda saat ini bisa jadi merupakan suatu hal yang sulit, tidak nyaman, bahkan menakutkan, tetapi itu bukanlah akhir dari dunia ini. Keputusan Anda untuk mengakhiri sebuah hubungan yang salah bisa jadi akan menjadi awal kehidupan Anda yang baru.”
Source : shine