Rabu, 26 Januari 2011

Petani dan Anjingnya

Ada seorang petani yang punya seekor anjing yang sering duduk di pinggir jalan dan menunggu kendaraan lewat. Begitu ada mobil yang lewat, anjing itu biasanya langsung lari dan mengejarnya sambil terus menggonggong. Suatu hari, seorang tetangga itu bertanya pada petani tersebut “Apakah menurutmu anjing itu suatu saat akan berhasil menangkap sebuah mobil yang dikejarnya?”

Petani itu menjawab, “Bukan itu yang saya kuatirkan. Apa yang mengganggu pikiran saya adalah apa yang akan dia lakukan jika ia bisa mendapatkan satu mobil saja?”

Banyak orang terkadang bertingkah seperti anjing itu dalam hidupnya, mengejar sesuatu tanpa tujuan yang jelas. Jika Anda mengejar sesuatu atau target Anda harus memiliki tujuan yang jelas. Hal ini Anda bisa lakukan dengan cara SMART (bijak/pintar), caranya adalah:

Specific - spesifik, terinci. Buatlah sebuah tujuan yang jelas dan terperinci. Jangan hanya gambaran umum, buatlah serinci mungkin.

Measurable - dapat di ukur. Jika Anda tidak dapat mengukurnya, Anda tidak akan pernah dapat mencapainya. Ukuran adalah sebuah cara untuk Anda memonitor apakah Anda telah melakukan sebuah kemajuan atau tidak.

Achievable – dapat diraih. Ini artinya bahwa target Anda adalah sesuatu yang bisa di raih dan cukup menantang untuk meraihnya.

Realistic – realistis. Jika Anda mencoba menjadi seorang milyader dalam waktu hanya satu bulan, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang realistis.

Time bound – ada tenggat waktu. Anda harus membuat tenggat waktu, dari tanggal memulainya hingga tanggal pencapaiannya. Tanpa tenggat waktu, Anda tidak akan memiliki motivasi dan disiplin dalam mencapainya.

Sumber : great-motivational-stories.blogspot.com

Senin, 24 Januari 2011

Gajah Terbang

Pernah melihat gajah terbang? Gajah terbang tentu hanya ada dalam cerita dongeng, cerita-cerita jenaka yang pastinya untuk anak kecil. Namun ada sedikit pandangan yang berbeda dan mungkin akan menggelitik kita tentang gajah terbang, seorang teman saya berkata bahwa gajah tidak bisa terbang karena gajah terlalu banyak mendengar apa kata manusia. "Buktinya ukuran telinganya yang lebar banget!", lanjut teman saya.
Teman saya membandingkan fenomena ini dengan kepak sayap lebah. Selama ratusan tahun, lebah menjadi misteri. Tak seorang pun, bahkan saintis paling kaliber mampu menjelaskan fenomena kepakan sayap lebah.

Lebah tidak memiliki telinga. Lebah hanya memiliki sepasang sayap yang kecil, namun mampu mengangkut nektar yang beratnya kadang menyamai berat tubuhnya. Bahkan menariknya, jagankan mengangkut nektar menurut pengamatan ahli dengan hanya mengandalkan sayap sekecil itu Lebah seharusnya tidak bisa mengangkat dirinya sendiri.

Setiap manusia tentu memiliki impiannya masing-masing, semua harus berjuang untuk mencapainya. Selama proses pencapaian tersebut, kritikan atau sindiran dan diragukan oleh orang lain itu akan selalu ada. Namun orang yang bertahan dan berani berjuang serta taat sampai akhir walaupun dipandang sebelah mata oleh orang lain dan mengalami segala bentuk intimidasi baik dari orang lain maupun dari dirinya sendiri. Dia adalah orang yang hebat! Dia akan unggul sebagai juaranya.

Kritikan akan selalu ada, tapi seorang pemenang tahu kapan waktu dia membuka telinga dan kapan tidak.

Sumber : jawaban.com

Kisah Sebuah Benih

Suatu kali, ada sebuah benih yang tercecer dan tidak dipedulikan orang. Karena merasa rendah diri, benih itu menganggap dirinya tidak penting. Hingga suatu hari, angin kencang datang dan membuat benih itu terbang – dia tidak tahu akan dibawa kemana – lalu tiba-tiba ia dilemparkan tanpa ampun ke sebuah tanah terbuka dan terpanggang di bawah sinar matahari.

Dia merasa bingung, mengapa ia harus mengalami semuanya itu? Tetapi yang ia bukanlah sebuah jawaban, tetapi air hujan sebagai gantinya terik matahari; kadang gerimis dan kadang hujan deras.

Sementara waktu berlalu dan tahun berganti, ia melihat seorang pengelana duduk di dekatnya, “Terima kasih Tuhan untuk ini. Saya sangat membutuhkan istirahat.”

“Apa yang kamu bicarakan?” benih itu bertanya. Pikirnya sang pengelana sedang mengolok-olok dirinya. Benih itu memang melihat beberapa orang duduk di dekatnya dalam beberapa tahun terakhit, namun tidak ada yang berbicara seperti itu.

“Siapa itu?” orang tersebut terkejut.

“Ini aku, Benih..”

“Benih?” Pria itu melihat pohon raksasa itu. “Apa kamu bercanda? Kamu bukan benih. Kamu pohon. Sebuah pohon raksasa!”

“Benarkah?”

“Ya! Kamu pikir kenapa semua orang itu datang ke sini?”
”Untuk apa mereka datang kesini?”
”Untuk berasakan keteduhanmu! Jangan beritahu saya bahwa kamu tidak tahu telah mengalami pertumbuhan bersama berjalannya waktu.”

Sesaat hening ketika pengelana itu selesai mengucapkan kalimat tersebut, dan membuat benih itu sadar siapa dirinya sekarang.

Benih itu sekarang telah menjadi sebuah pohon raksasa. Sambil berpikir, ia tersenyum untuk pertama kalinya. Tahun-tahun melelahkan berada dalam penyiksaan matahari dan hujan akhirnya masuk akal baginya.

“Oh! Itu artinya aku bukan benih kecil lagi! Aku tidak ditakdirkan untuk mati tanpa dikenali siapapun tetapi sebenarnya aku lahir untuk memberi keteduhan bagi orang-orang yang lelah. Wow! Sekarang hidupku seharga ribuan permata!” ucap benih yang telah menjadi sebuah pohon raksasa itu.

Tahukah Anda, kehidupan manusia serupa dengan jalan hidup benih ini. Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya berharga, dan setiap kesukaran yang dialaminya dimasa lalu adalah sebuah proses untuk membuat mereka kuat dan bertumbuh menjadi pribadi yang besar yang dapat memberkati kehidupan banyak orang.

Ingatlah bahwa hidup Anda lebih berharga dari ribuan permata, karena Anda telah ditebus dengan darah Kristus yang mahal. Hari ini sadarilah, bahwa Anda bukanlah sebuah benih lagi. Anda adalah sebuah pohon dimana ada banyak orang yang bernaung.

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.Mazmur 92:13-16

Sumber : Novoneel Chakraborty/ Heartnsouls.com

Sabtu, 22 Januari 2011

Hidupmu = karya Tuhan yang indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang sedang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam, putih dan warna-warna lainnya , begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; "Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu."

Waktu itu aku heran dan kagum melihat pola bunga-bunga yang indah! Dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata: "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Tuhan; "Tuhan, apa yang Engkau lakukan? "

Ia menjawab: " Aku sedang menyulam kehidupanmu."

Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"

Kemudian Allah menjawab," AnakKu, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini..

Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencana yang indah dari sisiKu."

******************************************************
Kita seringkali melihat rangkaian peristiwa dlm hidup kita seperti benang sulaman yg tak beraturan, ruwet & kusut. Serangkain berbagai persoalan datang bertubi-tubi, kesedihan, kemalangan, bencana, kesusahan & tantangan. Seringkali kita melihat hidup kita begitu rumit & berantakan. Itu karna kita melihat "bagian bawah sebuah sulaman".

Betapapun rumit & sulitnya keadaan hidup kita selama ini, yakinlah bahwa itu semua akan membentuk "gambar indah" bagi diri & hidup kita; jika kita dpt melihat dr "bagian atas sulaman".

Tuhan merencanakan dan "menyulam" sesuatu yg indah & terbaik karena Tuhan itu baik. Oleh karna itu, jalanilah hidup kita dgn penuh keyakinan atas karya & kebaikan Tuhan.

♪♬ Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri

Tuhan tak akan memberi ular beracun pada yang meminta roti
Cobaan yang engkau alami tak akan melebihi kekuatanmu

Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti, kau lihat pelangi kasihNYA ♪♬

******************************************************

Kamis, 20 Januari 2011

Penghalang yang Menyimpan Kesempatan

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba di kota itu, berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika dia semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu ke pinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.



Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa digunakan untuk memperbaiki hidup kita.
Sumber : jawaban.com

Rabu, 19 Januari 2011

Belajar Gagal Dari Seorang Sales

Daripada Anda dihantui oleh kegagalan, maka saya sarankan Anda untuk merangkul kegagalan. Bagi manusia, kegagalan adalah sesuatu yang menakutkan, untuk itu agar bisa menerapkan ide merangkul kegagalan itu, maka perlu membuat penyesuaian besar atas sikap kita.

Mari kita mendefinisikan ulang kegagalan. Gagal bukanlah ketika Anda mencoba sesuatu yang baru atau berbeda dan ternyata itu tidak berjalan seperti yang Anda mau. Kegagalah hanyalah sebuah pengalaman pembelajaran. Lebih tepat, definisi kegagalan adalah ketika Anda bahkan tidak mau mencoba sesuatu yang baru dan menjanjikan karena dibelenggu oleh rasa takut.

Salah satu teladan mereka yang dapat merangkul kegagalan adalah apa yang dilakukan para sales handal. Pertama, seorang sales handal harus bersedia menanggung resiko – ini adalah esensi dari pekerjaan mereka. Setiap kali mereka mengunjungi calon pelanggan, kemungkinan besar mereka akan mendengar kata penolakan. Selain dapat mengecilkan hati, penolakan dapat memukul ego seseorang.

Seorang sales yang buruk akan kecil hati, kehilangan pengharapan atau bahkan berhenti mencoba karena sebuah penolakan. Tapi tidak demikian dengan seorang sales handal, dia akan menerima resiko itu, menanggung “kegagalan” tersebut dan terus maju untuk meraih penghargaan.

Kedua, sales handal tidak memasukkan dalam hati penolakan yang diterimanya. Penolakan bukan berarti mereka bodoh, tidak cakap atau tidak berharga. Jika mereka sudah melakukan presentasi dengan baik tapi tetap menerima penolakan, bisa saja berkaitan dengan produk mereka, keadaan ekonomi, atau beberapa faktor lain yang diluar kendali si sales.

Sebaliknya, seorang sales buruk akan menganggap penolakan sebagai penghakiman atas nilai diri mereka. Setelah menerima serangkaian respon yang buruk dari para pelanggan, seorang sales buruk bisa merasa hancur dan harga dirinya terkoyak-koyak.

Ketiga, seorang sales handal menolak untuk menerima kegagalan – dalam hal ini kata “tidak” dari pelanggan – sebagai sesuatu yang final. Mereka percaya dengan apa yang mereka jual, dan bersedia membantu pelanggan untuk mengerti produk mereka.

Hari ini, apa definisi kegagalan bagi Anda? Apakah sikap Anda seperti seorang sales yang handal atau sales yang buruk? Jika Anda ingin berhasil dalam kehidupan ini, terimalah resiko yang ada. Jangan masukkan kegagalan dalam hati, dan tolaklah kata “tidak” dalam hidup ini sebagai jawaban akhir. Jalanilah kegagalan sebagai proses belajar dalam mencapai kesuksesan sejati.

Selasa, 18 Januari 2011

Bambu Dan Pakis

Suatu hari aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku. Aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. "Tuhan, berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?

Dia memberi jawaban yang mengejutkanku. "Lihat ke sekelilingmu" , kata-Nya. "Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada dihutan ini?". "Ya", jawabku. Lalu Tuhan berkata, "Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya. Aku beri mereka air. Pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah. Namun, tidak ada yang terjadi dari benih bambu. Tapi, Aku tidak berhenti merawatnya.

Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu. Tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya. Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu, tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. "

"Lalu pada tahun ke lima, sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan.

Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani. " "Tahukan engkau anak-Ku, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu. Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu. Tuhan berkata: "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis. Tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah. Saat mu akan tiba", Tuhan mengatakan itu kepadaku.

"Engkau akan tumbuh sangat tinggi" "Seberapa tinggi aku harus bertumbuh?" tanyaku. "Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?" Tuhan balik bertanya. "Setinggi yang mereka mampu?" Aku bertanya "Ya." Jawab-Nya, "Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai."

Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadap ku. Dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda. Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberikan pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.


Sumber: gideonidea

Aku meminta, Tuhan Menjawab

- jawaban.com -

Aku meminta kepada Tuhan untk menyingkirkan penderitaanku. Tuhan menjawab tidak. Itu bukan untuk Ku singkirkan, tetapi agar engkau mengalahkanya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku kesabaran. Tuhan menjawab tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan, itu tidak di hadiahkan, itu di pelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebahagiaan. Tuhan menjawab tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan. Tuhan menjawab tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat kepadaKu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan Rohku. Tuhan menjawab tidak. Kau harus menumbukannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup. Tuhan menjawab tidak. Aku akan memberimu hidup sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi orang lain seperti Ia mengasihiku. Tuhan menjawab, ah anak-KU akhirnya kau mengerti.

Yesus SUNGGUH MENGASIHIMU

Edit
Yesus SUNGGUH MENGASIHIMU
by Rendi Setiawan on Friday, March 12, 2010 at 8:45pm
Yesus SUNGGUH MENGASIHIMU
Setiap hari Minggu sore, setelah kebaktian pagi di gereja mereka, Pak pendeta dan anak lelakinya yang berumur 11 tahun, biasanya pergi keluar jalanan untuk membagi-bagi traktat Injil kepada penduduk kota itu.
Di hari minggu yang khusus itu, sang pendeta dan anaknya keluar ke jalanan, tetapi cuacanya amat dingin disertai hujan lebat.
Anak itu mengenakan pakaiannya yang paling tebal dan kering serta berkata, "OK Pap, aku sudah siap." Ayahnya bertanya, "Siap untuk apa?"
"Pap, sudah waktunya untuk membawa traktat Injil dan pergi keluar."
Pendeta itu membalas, "Nak, cuaca di luar amat dingin dan lagi hujannya amat lebat".
Anak itu memandang ayahnya dengan heran dan mengatakan, "Namun Pap, apakah banyak orang tidak jadi pergi ke neraka kalau sedang hujan?"
Ayahnya menjawab, "Nak, aku tidak akan pergi dalam cuaca yang begini." Dengan hampir putus asa anak itu bertanya, "Pap, apa aku boleh pergi sendirian?"
Ayahnya untuk beberapa saat ragu-ragu, namun kemudian menjawab, "Nak, kamu boleh pergi sendiri. Ini traktatnya. Hati-hatilah."
"Terima kasih, Pap"
Anak berumur 11 tahun ini langsung keluar rumah dan mulai pergi ke rumah-rumah untuk membagi traktat Injil.
Setelah dua jam kemudian, ia sudah basah kuyup karena hujan.
Traktatnya tinggal satu lembar.

Ia berhenti di sudut jalan dan mencari seseorang untuk diberi traktat yang terakhir itu, namun di jalan tak ada seorangpun yang lewat.
Kemudian la pergi ke sebuah rumah pertama yang la lihat dan la menekan bel rumah itu.
Namun tidak ada orang yang menjawab.
la berulang-ulang menekan belnya, tetap tidak ada orang yang membukakan pintunya.
Sekali lagi ia menekan belnya dan kemudian menunggu, namun tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya ketika la hendak meninggalkan tempat itu, ada sesuatu yang mencegahnya.
Ia kembali ke pintu depan rumah itu kemudian menekan sekali lagi disertai mengetuk pintunya dengan keras.
Kali ini, pintunya dibuka dan di tengah pintu berdiri seorang wanita tua. Wanita itu bertanya dengan pelan, "Ada apa, nak?"
Dengan mata yang berbinar serta senyuman yang amat ramah, ia berkata, "Ibu, maaf kalau aku mengganggumu.Namun aku ingin mengatakan, 'Yesus sungguh mengasihi Ibu'. Aku datang untuk memberi lbu selembar traktat yang menceritakan segala sesuatu tentang Yesus dan Kasih-Nya yang ajaib." Kemudian ia menyerahkan traktatnya yang tinggal satu lembar itu dan membalikkan badannya untuk segera pergi.
Wanita itu memanggilnya ketika ia akan pergi dan berkata, "Terima kasih, nak! Semoga Tuhan memberkatimu."

Hari Minggu berikutnya di dalam gereja, Pak pendeta berada di atas mimbar dan hendak mulai dengan kebaktian.
Sebelumnya ia mengundang jemaat dan bertanya, "Apakah di antara jemaat ada yang ingin memberikan kesaksian atau ingin mengatakan sesuatu?"

Dari belakang gereja, di barisan yang paling terakhir, berdirilah seorang wanita tua.
Dan ketika ia mulai berbicara, wajahnya bersinar amat cerah. "Tidak ada orang dalam gereja ini yang mengenal aku. Akupun tak pernah datang ke gereja ini. Pasalnya, sebelum minggu yang lalu, aku bukan seorang percaya. Suamiku telah meninggal dunia dan meninggalkan aku seorang diri. Hari minggu yang lalu dengan cuaca yang amat dingin disertai hujan lebat, membuat jiwaku lebih parah lagi karena aku sejak lama sudah kehabisan akal dan sudah meninggalkan semua harapan untuk ingin hidup terus."
"Jadi aku mengambil tali dan kursi kemudian naik tangga ke loteng rumah. Aku mengikat ujung tali yang satu erat-erat di balok kuda-kuda rumah dan mengikat ujung lain tali itu melingkari leherku. Dengan berdiri di atas kursi itu aku merasa begitu kesepian dan begitu patah hati. Ketika aku hendak meloncat dari kursi, pada saat itu aku mendengar bel pintu depan berdering kencang, sehingga aku terkejut. Aku berpikir, "Aku akan menunggu satu menit. Aku yakin, siapapun yang menekan bel itu pasti akan pergi. Aku menunggu dan menunggu, namun bel itu terus berdering tak henti-henti. Akhirnya orang itu pun mulai mengetuk-ngetuk pintu dengan keras. Aku berpikir lagi, "Siapakah orang itu? Tidak pernah ada orang yang mengebelku atau datang untuk mengunjungiku! " Aku melemparkan ikatan tali di leherku dan berialan ke pintu depan, sementara bunyi bel semakin kencang. Ketika aku membuka pintu depan, aku hampir tak percaya apa yang kulihat. Di depan pintu terlihat seorang anak kecil dengan wajah yang cerah, laksana malaikat yang tak pernah aku kenal seumur hidupku. Senyumnya... Aduh, aku tak dapat melukiskannya untuk kalian. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat hatiku yang telah lama mati, meloncat dan hidup kembali, ketika la berseru dengan suara seperti malaikat, "Yesus SUNGGUH MENGASIHIMU!" Kemudian ia memberikan aku selembar traktat yang kubawa ini.

Ketika malaikat kecil itu menghilang ditelan hujan yang lebat, aku menutup pintu dan membaca dengan pelan setiap kata dari Injil itu. Kemudian aku kembali ke loteng untuk mendapatkan tali dan kursi. Aku tidak memerlukannya lagi. Pasalnya, kini aku sudah jadi anak yang bahagia dari RAJA dan karena alamat dari gereja kalian berada di balik traktat itu, aku datang di sini hendak mengucapkan terima kasihku secara pribadi kepada malaikat kecilku, "Terima kasih kepada malaikat utusan Tuhan yang datang sungguh tepat pada waktunya sehingga dengan demikian, jiwaku telah diselamatkan dari keabadian neraka."

Tidak ada mata yang kering dalam gereja.
Ketika gereja dipenuhi dengan seruan dan teriakan untuk memuliakan Nama Tuhan, pendeta, ayah anak itu turun dari mimbar dan datang ke bangku di mana anak kecil itu duduk. Ia merangkulnya dengan mesra dan menangis tanpa dapat dikuasainya lagi.

Mungkin tak ada gereja yang mengalami saat-saat yang mulia dan mungkin di dunia ini tidak pernah kita lihat seorang ayah yang hatinya dipenuhi dengan kasih dan kehormatan untuk anaknya, kecuali Bapa surgawi, yang mengijinkan Anak-Nya, Yesus, untuk keluar ke dalam dunia yang gelap, dan dingin.

Ia telah menerima kembali Anak-Nya dengan sukacita yang tak terlukiskan. Dan apabila seluruh surga penuh dengan seruan pujian dan kemuliaan untuk menghormati sang Raja, maka Ia mendudukkan Anak-Nya di atas singgasana, jauh lebih tinggi dari semua dan segala penguasa, kuasa dan nama.

Mungkin, di antara pembaca ada juga yang harus melalui saat-saat yang gelap, dingin dan sepi dalam hatimu.
Anda mungkin seorang yang percaya, karena kita pun mempunyai banyak masalah, atau mungkin Anda belum mengenal Raja di atas segala Raja.
Apapun masalahnya, dan bagaimanapun problem dan situasi dimana Anda berada, betapa gelapnya kenyataan hidup ini, aku ingin menyampaikan bahwa:
Yesus SUNGGUH MENGASIHIMU

Tembok pemisah atau Jembatan penghubung?

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.

Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur - sapa.

Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. “Maaf Tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan,” kata pria itu dengan ramah. “Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan?”

”Oh ya!” jawab sang kakak. “Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.”

Kata tukang kayu, “Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang. Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai Kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.

Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya.

Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. “Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini.. padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku.” kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

“Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak.

“Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini,” kata tukang kayu, ”tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.”

from: jawaban.com

Mata Jasmani VS Mata Rohani

Apa yang dilihat MATA JASMANI adalah semua hal yang terlihat secara kasat mata saja. Dan ini sangat dibatasi oleh JARAK/RUANG dan WAKTU.



Dibatasi oleh JARAK/RUANG, karena kita tahu bahwa mata jasmani mempunyai keterbatasan melihat sampai kepada satu JARAK tertentu. Jika melebihi jarak tersebut, maka mata jasmani tidak lagi mampu melihat.



Dibatasi oleh WAKTU, karena mata jasmani hanya bisa melihat segala sesuatu pada saat SEKARANG. Tidak mungkin dapat melihat segala sesuatu yang telah berlalu atau yang akan terjadi.



Berbeda dengan MATA ROHANI yang dapat melihat melebihi MATA JASMANI, tanpa terbatas oleh JARAK/RUANG dan WAKTU.



Di dalam Efesus 1:18, MATA ROHANI disebut sebagai MATA HATI:



"Dan supaya Ia menjadikan MATA HATImu terang, agar kamu mengerti

pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang."



Kita tahu bahwa manusia tidak pernah terlepas dari masalah dalam hidupnya, oleh sebab itu, penting untuk diingat adalah ketika kita menggunakan mata rohani, hidup akan dipenuhi pengharapan akan kuasa TUHAN yang melebihi segala sesuatu, termasuk melebihi setiap masalah yang kita hadapi. Sehingga kita dipastikan keluar dari masalah sebagai seorang pemenang, bahkan lebih dari pemenang!







Sumber: NKT/hmministry

Tuhan Tahu...

Ketika engkau merasa lelah dan putus asa dengan usaha yang tiada mendatangkan hasil... Tuhan tahu seberapa keras engkau telah mencoba.

Ketika engkau telah menangis begitu lama dan hatimu tenggelam dalam kesedihan... Tuhan telah menghitung air matamu.

Jika engkau merasa bahwa hidupmu seakan berhenti dan waktu tak lagi berpihak padamu... Tuhan sedang menantimu.

Ketika engkau kesepian dan teman-temanmu terlalu sibuk bahkan untuk menerima telepon darimu... Tuhan ada di sisimu.

Ketika engkau berpikir sudah mencoba segala cara dan tidak tahu kemana lagi harus berpaling... Tuhan punya solusinya.

Ketika segalanya menjadi tidak masuk akal dan engkau bingung serta frustrasi... Tuhan punya jawabannya.

Jika engkau tiba-tiba melihat titik terang dan menemukan jejak-jejak harapan... Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika semuanya berjalan lancar dan engkau memiliki banyak hal untuk disyukuri... Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang menyenangkan terjadi dan engkau dipenuhi oleh kekaguman... Tuhan sedang tersenyum kepadamu.

Ketika engkau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk dikejar... Tuhan telah membuka matamu dan memanggil namamu.

Ingatlah bahwa dimanapun engkau berada atau apapun yang engkau hadapi... TUHAN TAHU.
Sumber : Diterjemahkan bebas dari Conectique.com

Sekali sahabat tetap sahabat

Aku sudah lama tidak bertemu Rita. Sahabat mulai dari SD. Sekarang kami jadi satu tempat kerjaan. Kami menjadi pelayan rumah makan terkemuka di kota Madura. Dulu kami berpisah saat kami sama-sama lulus SMA. Sekarang aku bertemu dengannya lagi. Meski rinduku sangat mendalam, aku sedikit merasa kecewa. Rita yang sekarang sangat berbeda dengan Rita yang dulu. Rita yang dulu begitu alami dan manis. Sekarang aku selalu melihatnya dengan wajah penuh make up tebal. Dan setauku dulu rambutnya panjang indah. Sekarang dia selalu memakai wig. Dia selalu memakai parfum yang menyengat hidung. Setiap aku bertemu dengannya aku selalu acuh. Aku jadi begitu membencinya. Di antara semua temanku, menurutku dia yang terlihat paling norak. Tapi dia selalu menyapaku dengan ramah. Entah kenapa aku malah merasa jijik melihatnya. Menurutku dia terlalu genit kepada para pelanggan yang datang. Aku benar-benar membencinya. Dia selalu menawariku makan pagi, makan siang, makan malam...begitu seterusnya. Dia tak peduli meski aku begitu membencinya.Aku benar-benar nggak habis pikir, apa yang membuat dia jadi begitu berubah 180 derajat seperti ini. Meski kuakui kebaikannya masih kuranglebih seperti dulu. Rita sungguh berbeda. Hari itu Rita memintaku untuk pulang bersama ke kos-kosan."Dina...pulang bareng aku yah??" Meski aku ingin menolak tapi dia tetap saja membuntuti aku.

"Dina...sebenarnya aku nggak nyangka kalo aku bisa bertemu lagi sama kamu. Di sini...di kota yang jauh dari ortu dan saudara-saudara kita. Aku sangat senang."

Aku menghentikan langkahku. Melihat wajahnya yang masih ada make up tebal itu. "Aku lebih senang kalo kita nggak pernah bertemu lagi. Kamu bukan Rita sahabatku yang dulu. Sahabatku yang dulu tidak norak dan genit seperti kamu" Dia masih tetap saja tersenyum.....

"Tapi aku tetap menganggap kamu sahabat terbaikku....dulu, sekarang, selamanya tetap sahabat..."

"Dengar...buatku itu nggak penting lagi."

"Malam ini aku ingin kamu ke kos ku. Aku ingin menceritakan sesuatu. Karena kamu adalah sahabatku. Maka kamu harus tau."

"Aku tidak mau."

"Ini permintaanku yang terakhir, Din?" Rita menarik tanganku cepat. Mau tak mau aku mengikutinya. Kosnya tidak terlalu besar, hanya cukup untuk 1 orang saja. Rita menarikku masuk.

"Duduklah"Aku segera menarik tanganku dan duduk. Rita menuju wastafell dan mencuci mukanya. Sebentar dia memandang ke cermin dan mengambil handuk. Mengusap mukanya hingga kering. Dia berbalik memandangku. Aku tercekat. Bagaimana mungkin? Yang kulihat adalah Rita yang tidak bermakeup tebal. Wajah Rita menjadi sangat tua dan pucat. Mata Rita berkaca-kaca.

"Karena kamu adalah sahabat terbaikku, Din" Aku masih terduduk dengan kaku. Tuhan, alisnya pun ternyata putih. Astaga....Rita memegang wig yang masih terpasang di kepalanya kemudian, dia melepasnya. Tuhan, apa yang sesungguhnya terjadi? Rambut Rita tinggal beberapa helai saja, kepalanya hampir botak.

Aku mendekatinya, menyentuh wajahnya dengan tangan gemetar. Rita mulai meneteskan airmatanya. Aku menyentuh kepalanya. Tuhan, ini benar-benar kenyataan."Aku sakit, Din. Aku selalu kesakitan. Setiap malam aku selalu merasakan sakit yang luar biasa. Aku seperti ingin mati saja. Aku ingin mengakhiri semuanya. Tapi aku selalu ingin berjuang. Aku ingin seperti kamu. Yang sehat dan bersemangat.""Rit.....aku...""Malam ini tdurlah di sini, hari ini rasanya aku begitu lelah" Aku memapah Rita ke sofa. Dia berbaring di atas pangkuanku. "Aku nggak berani memejamkan mata, Din. Aku nggak pernah minum obat dari dokter. Malam ini begitu indah ya Din?"Aku terdiam. Airmataku tak mau berhenti menetes. Rasanya aku benar-benar ingin memeluk Rita dengan erat. Tapi melihat tubuhnya begitu rentan, aku seolah takut tubuhnya kan lepas satu per satu. Rita mulai memejamkan matanya.

Tuhan....aku telah bersalah kepadanya selama ini. Benarkah aku adalah sahabat yang baik untuknya? Bahkan dalam keadaan yang buruk pun aku tak bisa menerima dia apa adanya...Bahkan aku telah membencinya....Aku bahkan tak menganggapnya sebagai sahabatnya lagi....Tapi dia ternyata tidak berubah..Dia tak berubah....Rita sekarang sama dengan Rita yang dulu....

Gundukan tanah ini belum terlalu kering. Untuk ke-7 kalinya aku datang. Menaburkan bunga mawar kesukaan Rita dan membersihkan makamnya. Aku selalu ingat kata-kata terakhir Rita "Menjadi sahabat bukan hanya saat sahabat itu ada, menjadi sahabat bukan hanya saat sahabat itu baik.....karna sekali menjadi sahabat maka selamanya akan menjadi sahabat..."





Sumber : generasi minyak anggur/lh3

Biskuit-biskuit gosong

Ketika saya masih kecil, mama saya suka membuat makan pagi hingga malam hari, setiap hari sampai sekarang. Dan saya teringat dengan suatu malam dimana mama yang seharian telah mengurus rumah membuatkan makanan untuk papa.

Pada malam tersebut, mama saya meletakkan sepiring telur, sosis dan biskuit gosong di depan ayah saya. Seperti tidak terjadi apa-apa, ayah saya meraih biskuit yang ada di meja, tersenyum pada ibu saya dan menanyakan bagaimana hari saya di sekolah. Saya tidak terlalu jelas mengingat apa yang saya katakan malam itu, tetapi saya ingat saya memperhatikan ayah saya melahap biskuit gosong dengan mentega dan jelly.

Saat saya meninggalkan meja malam itu, saya mendengar mama meminta maaf kepada ayah karena telah memberikan biskuit yang gosong. Dan saya tidak akan pernah melupakan apa yang ayah katakan kepada mama ketika itu: "Sayang, saya cinta biskuit gosong."

Seperti biasa, sebelum saya pergi tidur malam saya menghampiri dan mencium pipi ayah. Ketika saya sudah bertemu dengan ayah, selain melakukan kebiasaan kecil saya tersebut, saya memberikan satu pertanyaan kepada ayah. Saya bertanya kepadanya, apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong tersebut. Sambil membekap saya dalam pelukannya, ia pun berkata, "Mama kamu telah bekerja keras hari ini dan dia terlihat benar-benar begitu lelah. Toh, biskuit gosong tidak pernah menyakiti siapa pun.!"

Hidup ini penuh hal-hal yang tidak sempurna dan orang yang tidak sempurna. Saya bukan yang terbaik di segala bidang. Saya termasuk orang yang suka lupa hari ulang tahun dan peringatan atas sesuatu. Namun, apa yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun adalah bahwa belajar untuk menerima setiap kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan setiap perbedaan yang ada adalah salah satu kunci yang paling penting untuk menciptakan hubungan yang sehat, bertumbuh, dan abadi.

Dan itu doa saya untuk Anda hari ini. Bahwa Anda bisa belajar untuk mengambil yang baik, yang buruk, dan bagian-bagian terburuk dari kehidupan Anda dan meletakkannya di kaki Tuhan. Karena pada akhirnya, hanya Dia yang dapat membuat suatu hubungan di mana biskuit gosong bukanlah sebuah masalah!

Kita bisa memperluas hal ini untuk hubungan apapun. Dalam kenyataannya, memahami adalah dasar hubungan apapun, baik suami-istri , orangtua-anak atau pun persahabatan!

"Jangan memasukkan kunci kebahagiaan Anda di saku orang lain. Simpanlah itu di saku Anda sendiri."



Sumber : skywriting

Malaikat Penolong

Beberapa tahun yang lalu di wilayah Lower East Side di New York terdapat sebuah shteibel kecil (rumah ibadah kecil). Apabila sepuluh pria berkumpul untuk sembahyang, ruangan itu menjadi cukup untuk berdiri saja. Dahulu ruangan itu merupakan kedai tukang kunci.



Kedai tukang kunci tua itu telah kosong selama bertahun-tahun, sampai Rabbi Seigel pindah ke wilayah pemukiman tersebut dan bertanya kepada pemiliknya apakah ia dapat menggunakan kedai yang kosong itu bagi umatnya dan ibadat keagamaan mereka. Ia berjanji akan mengosongkan segera setelah pemiliknya mendapatkan seorang penyewa. Pemilik itu, Morris Rabinowitz, menyadari bahwa masyarakat Yahudi di pemukimannya membutuhkan tempat untuk berdoa, tetapi saat ini adalah tahun-tahun depresi, dan jemaat tersebut tak mampu mengumpulkan cukup uang untuk menyewa bahkan sebuah ruangan kecil semacam itu.



Tapi, Rabinowitz adalah seorang pria yang baik hati, dan ia mengizinkan orang-orang menggunakan ruangan itu. “Sampai aku mendapatkan seorang penyewa,” katanya mengingatkan mereka, “lalu aku terpaksa meminta kalian untuk pergi. Aku pun perlu mencari nafkah.” Dan begitulah selama bertahun-tahun kemudian, ruangan itu tetap tidak disewakan, dan jemaat tersebut berkumpul disitu setiap pagi dan sore untuk berdoa.



Rabinowitz itu memiliki hati yang baik, dan suka menolong orang lain. Celakanya, tahun-tahun depresi itu tidak begitu ramah terhadap Rabinowitz. Ia kehilangan sebagian besar harta rumah dan pekarangan yang dimilikinya; hanya beberapa saja yang tertinggal, termasuk shteibel kecil itu.



Ia tinggal sendirian, dengan penghasilan yang amat sedikit. Pada suatu hari, istri sahabat lamanya mendatangi Rabinowitz untuk menjelaskan bahwa anak laki-lakinya telah ditangkap dan bahwa dia membutuhkan $300 untuk menyewa pengacara.



Maukah ia menolongnya? Rabinowitz pergi ke banknya dan menanyakan saldonya kepada kasir muda itu. Ia mempunyai $532. Ia menarik $300 dan membawanya kepada wanita itu. Wanita itu mengucap syukur kepadanya dan berjanji untuk membayarnya kembali segera setelah ia mampu membayarnya. Rabinowitz tersenyum dan berkata “Dengarlah, kalau kau mendapatkannya kau baru akan mengembalikannya kepadaku. Bukan sebelumnya.”



Beberapa bulan kemudian, sahabat yang lain mendekati Rabinowitz dan bertanya apakah ia dapat meminjamkan $500 untuk perkawinan putrinya. Rabinowitz mengatakan ia tidak mempunyai uang sebanyak itu, tetapi ia akan sangat gembira memberikan apa yang dimilikinya.



Ia bergegas ke bank itu, mengisi formulir penarikan, dan menyampaikannya kepada kasir, “Anda adalah kasir favoritku,” katanya kepada gadis muda itu. “Anda lihat, aku betul-betul butuh $500 untuk menolong Rosen, tetapi berikanlah aku berapa saja yang tersisa di rekeningku,” katanya dengan ramah.



Gadis muda itu membalas tersenyum dan berkata, “Tuan Rabinowitz, Anda memiliki $5.532 di rekening Anda.” “Itu mustahil!” serunya. Gadis itu memeriksa rekeningnya lagi dan berkata, “Benar, saya tidak bohong. Anda memiliki $5.532 dalam rekening Anda.” “Oke, kalau begitu berikan aku $500 yang diperlukan Rosen untuk pernikahan putrinya” kata Rabinowitz. Kasir itu menyerahkan uang tersebut kepadanya, dan Rabinowitz pergi, masih amat bingung. Ketika berjalan, ia berpikir sendiri, “Barangkali Tuhan yang baik hati telah membuka buku-buku mereka dengan paksa agar aku dapat memiliki cukup banyak uang untuk Rosen.



“Siapakah aku ini sampai mau mempertanyakan jalan-jalan Tuhan?” Beberapa minggu kemudian, Rabbi dari shteibel kecil itu dating kepada Rabinowitz. “Morris, aku tahu segala sesuatunya tidak berjalan begitu baik bagimu akhir-akhir ini, tetapi kami sangat membutuhkan uang. Kau tahu keluarga Golberg yang tinggal di sudut seberang toko bahan makanan itu? Anak mereka harus segera dioperasi. Dapatkah kau meminjamkan kurang lebih $5000 kepada mereka untuk menyelamatkan nyawa anak mereka?”



Rabinowitz melenguh (termenung). “Aku tidak mempunyai uang $5000, tetapi aku akan memberimu apa saja yang aku miliki, demi menyelamatkan nyawa seorang anak; apa lagi yang lebih penting dari ini?” Sekali lagi Rabinowitz pergi ke bank. Ia memberikan lembar penarikan kepada kasir favoritnya untuk menutup rekeningnya. “Anda tidak harus menutup rekening Anda apabila Anda menghendaki $5000, Tuan Rabinowitz. Anda mempunyai $10,000 di rekening Anda.” “Sepuluh ribu dolar! Aku sudah berminggu-minggu tidak menabung!” teriak Rabinowitz. Gadis itu memeriksa ulang dan tersenyum.



“Anda memang mempunyai $10.000 di rekening Anda.” “Apakah Anda yakin? Aku tidak ingin Bank ini mengejar-ngejar aku untuk mendapatkan uang itu.” Gadis itu memeriksa lagi dan bahkan menelepon manajer Bank tersebut. Ia menegaskan bahwa rekening itu berisi $10,000. Gadis itu memberi Rabinowitz sebuah cek bank seharga $5000, dan ia membawanya ke shteibel dan menyerahkan cek itu kepada Rabbi. Tetapi Rabinowitz tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bagaimana uang itu bisa bertambah banyak di rekeningnya.



Dan begitulah sepanjang hidupnya. Rabinowitz yang tidak mempunyai keluarga terus melakukan mukjizat kecil di pemukiman tersebut, bukan untuk dirinya sendiri. Tahun-tahun berlalu dan ia pun menjadi rapuh. Gadis muda yang mas kawinnya dibayar Rabinowitz itu merawatnya. Anak muda yang pernah membutuhkan operasi untuk menyelamatkan nyawanya, sekarang menjadi seorang bankir kaya yang mengusahakan apa saja yang dibutuhkan Rabinowitz agar tidak kekurangan sesuatu. Gedung yang menjadi tempat shteibel itu diberikan kepada Rabbi, yang dengan bantuan Rabinowitz, berhasil menghimpun cukup banyak uang untuk mengubah gedung itu menjadi sebuah sinagoga yang indah dimana kaum beriman dapat berdoa setiap pagi dan malam. Jadi hidup Rabinowitz berakhirlah. Dan bagaimana misteri rekening bank yang bertambah itu?



Gadis muda yang menjadi kasir favorit itu adalah putrid seorang pria yang dahulu pernah menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Pria itu mengusahakan uangnya dengan bijaksana dan hasilnya lebih banyak daripada yang diperlukannya. Ketika ia menyadari bahwa putrinya bekerja di bank dimana rekening Rabinowitz berada, ia mempunyai ide mendepositokan satu juta dolar di bank tersebut dengan perintah pada putrinya untuk mengusahakan agar rekening Rabinowitz senantiasa tersedia bagi keperluan apa saja yang diminta oleh Rabinowitz.



Rabinowitz meninggal dunia tanpa pernah mengetahui salah satu dari hal ini. Ia menganggap kasir muda itu sebagai seorang malaikat yang menyamar, dikirim untuk memberkati seorang pria sengsara ketika ia memberkati orang lain.



Diceritakan kembali oleh Arnold FineSumber: Sentuhan 9 menit, edisi 2. By Anthony Harton



“Setiap perbuatan baik yang kita lakukan dengan tulus kepada sesama adalah tabungan untuk diri kita sendiri, karena Tuhan tidak pernah berhutang kepada umat-Nya.”



from messages from christian without borders

Misi Hidup dalam Sebuah Kerja

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah. Hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah.

Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun.”

Tapi bukankan ia bisa menaikan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah..! betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua diatas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankan demikian tugas kita dalam kerja: menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.

Sumber : iphincow.wordpress.com

Benih Dalam Kehidupan

Jika Anda menanam kejujuran, Anda akan menuai kepercayaan

Jika Anda menanam kebaikan, Anda akan menuai teman

Jika Anda menanam kerendahan hati, Anda akan menuai penghargaan

Jika Anda menanam ketekunan, Anda akan menuai kepuasan

Jika Anda menanam pertimbangan, Anda akan menuai cara pandang

Jika Anda menanam kerja keras, Anda akan menuai kesuksesan

Jika Anda menanam pengampunan, Anda akan menuai pemulihan hubungan

Jika Anda menanam iman di dalam Kristus, Anda akan menuai buah-buah roh

Jadi perhatikan benih apa yang Anda tanam saat ini; Apa yang Anda tanam saat ini akan menentukan apa yang akan Anda tuai nanti.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. ~ Galatia 6:7

Sumber : Fathershands.com

Arti, Sifat, Dampak dan Bentuk Kesombongan

"Semakin sombong seseorang, semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain."(C. S. Lewis)



Suatu malam, seseorang berkata, "Saya sedang bergumul dengan diri saya. Saya merasa sombong dan ini mengganggu saya." Melihat ekspresi wajahnya yang serius dan tulus, saya menjawabnya, "Tenang saja, kesombonganmu jelas masih dalam taraf yang belum puncak. Pernyataanmu bahwa kamu merasa sombong menunjukkan bahwa kamu tidak benar-benar sombong." Setelah itu kami berbicara panjang lebar dan saling mendukung.



Komentar saya di atas mencerminkan sebuah keyakinan bahwa mereka yang sombong total biasanya tidak menyadari kesombongannya dan mereka yang mampu mengakui kesombongannya, masih memiliki sisa-sisa kerendahan hati.. Hal ini seperti, orang yang agak mabuk sadar bahwa ia agak mabuk, namun orang yang mabuk total tidak sadar bahwa ia mabuk; atau orang yang setengah tertidur sadar bahwa ia setengah tertidur, tetapi mereka yang tertidur lelap tidak sadar bahwa ia sedang tertidur.



Nah, dalam pergulatan melawan dosa yang sama sekali tidak pantas ini, saya tiba pada karya C. S. Lewis, seorang profesorCambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia.



Jika C. S. Lewis ditanya tentang ciri-ciri orang sombong, jelas sekali ia akan menjawab: "orang sombong adalah orang yang sering kali tersinggung dengan orang sombong lainnya." Kalimat itu bukan kata-katanya, tetapi rangkuman dari pemahamannya. Dalam bahasanya sendiri, ia berkata bahwa kesombongan adalah dosa yang "semakin kita memilikinya semakin kita tidak menyukainya dalam diri orang lain."



Pendeknya, ketika Anda tidak terima, jengkel, dan tersinggung dengan orang yang Anda anggap sombong, sangat mungkin kesombongan dalam diri Anda sedang memberontak melawan kesombongan orang lain. "Emangnya dia aja yang bisa, gua juga bisa tahu!" Begitulah ketika orang sombong tersinggung dengan orang sombong lainnya. Kebenarannya adalah, semakin sering Anda tersinggung dan tidak menyukai orang-orang yang Anda anggap sombong, semakin mungkin bahwa Anda sendiri adalah orang yang sombong.



Ia tidak berkata bahwa orang yang sombong adalah orang yang mampu menemukan kesombongan orang lain, tetapi bahwa orang yang sombong adalah orang yang tidak menyukai kesombongan dalam diri orang lain. Selanjutnya, yang harus diingat adalah bahwa motivasi ketidaksukaan (dalam pemikiran C.. S. Lewis) ini bukanlah karena kita tahu bahwa kesombongan itu ditentang Allah, melainkan karena kita merasa tersinggung, marah dan tidak suka ketika ada orang yang menyombongkan diri di hadapan kita. Nah, kesombongan jenis inilah yang dibicarakan C. S. Lewis.



Pemikiran C. S. Lewis di atas sungguh sederhana sekaligus mendalam karena ia telah berhasil menemukan ciri-ciri orang yang sombong, bahkan mungkin ciri yang terutama. Selanjutnya C. S. Lewis berkata, "Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan." Ia menjelaskan, "Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya." Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan eksis dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.



Selanjutnya, jika Anda mengamati semua dosa yang lain, misalnya orang yang suka korupsi waktu kerja atau uang perusahaan, pornografi, pornoaksi, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan membunuh, Anda akan menemukan bahwa mereka yang melakukannya tidak selalu keberatan jika orang lain juga melakukannya. Itulah sebabnya kita dapat menemukan sekelompok mahasiswa tukang contek yang saling bersahabat, "persekutuan" para pemabuk, kumpulan orang-orang cabul, kelompok para pencuri waktu kerja, dan geng para pembunuh. Dalam bahasa C. S. Lewis, "Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di engah orang-orang yang mabuk dan tidak suci."



Namun demikian, kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan- kesombongan adalah perseteruan. Dan bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Singkatnya, dalam hikmat C. S. Lewis, dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis akan menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.



Akhirnya, terhadap kesombongan ini C. S. Lewis ingin memberikan peringatan yang tegas, "Selama Anda menjadi orang yang sombong Anda tidak bisa mengenal Allah" Mengapa? "Sebab kesombongan adalah kanker spiritual: yang memakan habis setiap kemungkinan dari kasih, atau perasaan cukup, atau bahkan akal sehat." Pemikiran C. S. Lewis hanyalah gema cerdas dari kebenaran Alkitab yang berkata, "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong" (1Kor. 13:4).



C. S. Lewis menutup pembahasannya dengan menunjukkan jalan menuju kerendahan hati. Ia berkata, "Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda adalah orang yang sombong. Dan langkah itu sekaligus merupakan langkah yang cukup besar. Setidaknya, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan sebelumnya. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak tinggi hati, itu berarti Anda memang tinggi hati"



Semoga kita semua sadar dan mau dengan rendah hati mengakui kesombongan kita dan bertobat menjadi orang yang tidak sombong.

Dua Pilihan Dihadapkan Padamu, Mana Yang Kau Pilih?

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana , memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialami.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?"

Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya. Aku selalu memilih sisi positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry, "Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang di sekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut.

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku? " Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry. "Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, " Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya. "Di sana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry. "Dia bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku.. Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' Di tengah tertawa mereka aku katakan, 'Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.

Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah. Sekarang kamu punya dua pilihan:

1. Selalu berpikir positif, dan selalu melihat pada sisi yang positif.

2. Menjadi teladan bagi orang lain untuk mereka bisa mengenal dan mempermuliakan Tuhan kita.





Sumber : generasi minyak anggur/lh3